Unsur dalam pendidikan yang berperan penting perihal bagaimana seharusnya kondisi sosial sekolah berlangsung adalah memastikan siswa merasa nyaman di sekolah, baik secara fisik maupun non-fisik. Tulisan ini merupakan refleksi saya atas pengalaman magang di Save The Children dalam program kerjasamanya dengan Uniqlo, Peace for All, yaitu sebuah program yang digagas oleh Uniqlo dan diimplementasikan oleh Save the Children Indonesia bersama Yayasan Indonesia Bhadra Utama. Menariknya, semua kegiatan yang saya jalani mengembalikan saya kepada pembelajaran yang didapat di kelas — konsep yang diperjuangkan sangat berkaitan erat dengan Maslow's Hierarchy of Needs.
Apa itu Peace for All?
Peace for All merupakan program kolaborasi antara Uniqlo dan Save the Children Indonesia, dengan tim eksekutor dari Yayasan IBU (Indonesia Bhadra Utama). Program ini bertujuan memberdayakan anak dan remaja usia 10–19 tahun untuk mempromosikan perdamaian sekaligus meningkatkan akses terhadap layanan air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang layak di sekolah. Yang khas dari program ini adalah pendekatannya yang child-led, anak-anak bukan sekadar penerima manfaat, melainkan dilibatkan secara aktif dan bermakna dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari konsultasi hingga pelaksanaan kampanye.
Phase pertama dilaksanakan di Desa Bokoharjo, Sleman, Yogyakarta. Kini program memasuki fase kedua dengan dua lokasi: Kota Bandung yang menyasar 10 sekolah di antaranya SMPN 6, SMPN 32, SMPN 42, SMKN 1, SMKN 5, SMKN Madani, SLB Sumbersari B, SLB Sumbersari C, SLB N Sukapura, dan SMAN 10 serta Kabupaten Sleman dengan 6 sekolah yang merupakan kelanjutan dari fase pertama. Fokus pemilihan sekolah di Bandung tidak sembarangan: diprioritaskan sekolah dengan tingkat perundungan tinggi dan kondisi fasilitas sanitasi yang buruk. Data dari proposal fase 2 mencatat bahwa di Jawa Barat terdapat 2.464 kasus kekerasan terhadap anak yang berdampak pada 2.707 korban, 58% di antaranya berusia 6–17 tahun. Angka ini menjadi landasan mengapa intervensi semacam ini sangat mendesak.
Selain aspek fisik berupa renovasi toilet dan pembangunan sumur bor, program ini juga secara serius membangun sistem child safeguarding, memastikan setiap anak merasa aman, terlindungi, dan memiliki jalur pelaporan yang jelas jika mengalami atau menyaksikan kekerasan. Pembentukan satgas anti-kekerasan di sekolah serta pengembangan SOP penanganan kekerasan menjadi bagian integral dari program, bukan tambahan.
Ketika Toilet Menjadi Titik Awal Rasa Aman
Siapa yang menyangka bahwa sebuah toilet bisa menjadi simbol transformasi pendidikan?
Di SLB Sumbersari, sebelum program Peace for All hadir, fasilitas sanitasi yang ada jauh dari kata layak. Kondisi lapangannya sangat memprihatinkan: air berwarna kuning, toilet pria dan wanita masih bercampur, serta desain yang sama sekali tidak mempertimbangkan kebutuhan siswa disabilitas. Menggunakan kerangka Maslow, hal ini adalah penghalang nyata bagi kebutuhan paling fundamental: physiological needs dan safety needs. Bagaimana seorang siswa bisa fokus belajar, membangun relasi sosial, bahkan merasa dirinya dihargai ketika kebutuhan paling dasar untuk buang air saja belum terpenuhi dengan bermartabat?
Momen peresmian toilet inklusif pada 6 Maret 2026 terasa lebih dari sekadar seremonial. Ketika Alya, siswi dengan disabilitas netra, kini bisa mengakses toilet secara mandiri berkat pemasangan guiding block, sesungguhnya yang berubah bukan hanya infrastrukturnya melainkan juga rasa percaya dirinya, otonominya, dan posisinya sebagai individu yang layak mendapat akses setara. Itulah pergeseran dari safety needs menuju esteem needs yang terjadi dalam satu proyek fisik sederhana.
Dari Rasa Aman ke Rasa Memiliki
Temuan baseline study fase pertama program ini mencatat bahwa 80% siswa merasa lebih aman di sekolah setelah mengikuti sosialisasi, dan 90,6% menjadi lebih toleran. Angka ini menarik bukan karena besarnya, melainkan karena urutannya: rasa aman dulu, toleransi kemudian. Inilah persis alur yang Maslow gambarkan, safety mendahului love and belonging.
Namun yang lebih mengejutkan dari pengalaman di lapangan adalah temuan yang membalik asumsi awal: di SLB Sumbersari maupun SLB Sukapura, perundungan yang dialami siswa mayoritas tidak terjadi di sekolah, justru terjadi di rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Sekolah, dalam hal ini, sudah berhasil menjadi zona aman. Tantangannya justru ada di luar tembok sekolah, di mana tidak ada guru yang paham karakteristik tiap anak, tidak ada struktur yang melindungi, dan tidak ada teman sebaya yang dilatih untuk saling menjaga.
Ini menjadi peringatan penting bagi para pendidik dan perancang kebijakan: memenuhi kebutuhan sosial anak di sekolah saja tidak cukup jika rumah dan lingkungan sosialnya belum turut menjadi ekosistem yang aman. Program Peace for All merespons hal ini dengan merancang sesi edukasi bagi orang tua dan komunitas sebagai lapisan perlindungan tambahan karena child safeguarding yang sejati tidak berhenti di gerbang sekolah.
Saat Anak Diberi Kepercayaan untuk Bersuara
Salah satu momen yang paling berkesan sepanjang magang ini adalah ketika konsep kampanye Peace for All bergeser dari satu festival besar menjadi rangkaian kegiatan berbasis sekolah yang diinisiasi oleh peer champions atau siswa-siswa yang dipercaya untuk merancang dan memimpin kampanye di lingkungan mereka sendiri.


Desain program ini sangat erat kaitannya dengan piramida Maslow: self-actualization. Ketika SMPN 42 merancang program Safe Day setiap Jumat, ketika SMPN 6 memilih drama tentang kesetaraan gender sebagai medium kampanye perdamaian, ketika siswa tunarungu di SLB Sumbersari tampil membacakan puisi dalam bahasa isyarat di depan para tamu mereka sedang mengaktualisasikan dirinya. Bukan sebagai objek program, melainkan sebagai subjek perubahan.
Inilah yang membedakan program pemberdayaan yang transformatif dari yang sekadar transaksional: apakah anak dilibatkan sebagai penerima manfaat saja, atau sebagai aktor perubahan yang punya suara dan ownership atas prosesnya. Prinsip partisipasi anak ini tidak hanya sekadar pendekatan metodologis, tetapi pernyataan nilai bahwa anak adalah pemangku kepentingan utama atas hak dan masa depan mereka sendiri.
Apa yang Bisa Dipelajari Dunia Pendidikan?
Refleksi ini membawa saya pada satu kesimpulan sederhana yang mungkin sering kita lewatkan: kondisi sosial sekolah yang sehat tidak bisa dipisahkan dari kondisi fisiknya. Toilet yang bersih, air yang layak, fasilitas yang inklusif bukanlah pelengkap, melainkan prasyarat. Dan rasa aman bukan hanya soal tidak adanya kekerasan yang kasat mata, melainkan soal apakah setiap anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, merasakan bahwa sekolah adalah tempat di mana mereka dilihat, diterima, dan dipercaya.
Program seperti Peace for All mengingatkan kita bahwa pendidikan terbaik tidak selalu lahir dari ruang kelas yang canggih. Kadang ia lahir dari sebuah guiding block di lantai toilet, dari sebuah puisi yang dibawakan dengan tangan, dan dari kepercayaan bahwa anak-anak — siapapun mereka — mampu menjadi agen perdamaian.




